ANALISIS SEMIOTIKA ROLAND BARTHES PADA TINGKULUAK PATIAK DI NAGARI CUPAK KECAMATAN GUNUNG TALANG KABUPATEN SOLOK PROVINSI SUMATERA BARAT
DOI:
https://doi.org/10.56444/nalar.v5i1.3476Keywords:
semiotika Roland Barthes, budaya, tingkuluak patiak, makna, fungsiAbstract
Penelitian ini mengkaji tentang Analisis Semiotika Roland Barthes pada Tingkuluak patiak di Nagari Cupak. Latar belakang berlandaskan pada pentingnya pelestarian nilai budaya Minangkabau yang muncul dalam pakaian adat tradisional yakni tingkuluak patiak ditinjau dari segi bentuk, bahan, warna, dan motif sebagai simbol identitas perempuan khususnya bundo kanduang. Tujuannya adalah untuk mengungkap makna denotasi, konotasi, dan mitos yang terkandung serta menjelaskan fungsi simboliknya dalam prosesi pernikahan di Nagari Cupak. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui pengamatan, wawancara, disertai dengan catatan lapangan terkait tingkuluak patiak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa denotasi dari tingkuluak patiak merupakan penutup kepala yang digunakan oleh perempuan memiliki bentuk seperti kipas dengan lima lipatan mengembang di sisi kanan dan kiri terbuat dari kain lame kemudian diberi kanji agar tampak kokoh. Secara konotasi berdasarkan pada bentuk lipatan yang ada di tingkuluak patiak mencerminkan simbol identitas masyarakat dengan adanya lima suku yang mendiami wilayah Nagari Cupak. Mitosnya, tingkuluak patiak dimaknai sebagai ideologi yang hidup dalam masyarakat dengan adanya penghormatan terhadap leluhur yang dianggap oleh masyarakat setempat. Tingkuluak patiak digunakan hanya saat menjalani prosesi pernikahan yang berfungsi sebagai penanda status dan kehormatan serta menegaskan peran bagi mande rubiah dan bundo kanduang di Nagari Cupak.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 NALAR: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.










